TEKS BERJALAN

SELAMAT DATANG DI WEB HENRY TORUAN
Tampilkan postingan dengan label tuntunan praktikum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tuntunan praktikum. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 November 2009

PERCOBAAN 2 89S51

SAKLAR PUSH BUTTON

referensi dari internet

TUJUAN:

1. Mahasiswa memahami rangkaian mikrokontroller dengan interface ke saklar

2. Mahasiswa dapat memahami program assembly untuk mengambil data saklar dan mengeluarkan data ke LED.

3. Mahasiswa memahami beberapa instruksi assembly dasar, MOV, Setb, Clr, RL dan RR.



clip_image001
Gambar 2.1. Rangkaian Interface Push Button

Pada gambar 2.1 tersebut tampak rangkaian push button, bila saklar ditekan maka port sesuai dengan bit tersebut akan mendapat logika low ‘0’ dan sebaliknya bila saklar tidak ditekan maka port tersebut akan mendapat logika high ‘1’.

Percobaan 2.1. Ambil Data Saklar

Pada percobaan ini, LED akan nyala bila saklar ditekan sesuai dengan bit tersebut.
Untuk melakukan percobaan ini lakukan beberapa langkah sebagai berikut:

1. Buka jumper pada EN_DAC apabila sedang terhubung.

2. Hubungkan modul Microcontroller Trainer dengan power supply +5V

3. Hubungkan modul Microcontroller Trainer dengan rangkaian programmer

4. Buka Program M-IDE Studio for MCS-51, sebagai editor dan compiler program

5. Ketik program berikut ini:

Org 0h

Start: Mov A, P2 ;Ambil data dari P2 dan Simpan ke A

Mov P0, A ;Kirim data A ke P0

sjmp start

end

6. Simpanlah program yang anda ketik dan beri nama : prog21a.asm

7. Pada program MIDE tersebut pilih Build /F9 atau untuk melakukan kompilasi program dari *.asm ke *.hex.

8. Lakukan pemrograman mikrokontroller dengan menggunakan Program ISP Software (Lihat Petunjuk Penggunaan)

9. Lakukan pengamatan pada LED.


Percobaan 2.2. Putar Kanan-Kiri

Pada percobaan ini, LED akan berjalan kekanan atau kekiri mengikuti penekanan tombol P2.0 atau P2.1.
Untuk melakukan percobaan ini lakukan beberapa langkah sebagai berikut:

1. Hubungkan modul Microcontroller Trainer dengan power supply +5V

2. Hubungkan modul Microcontroller Trainer dengan rangkaian programmer

3. Buka Program M-IDE Studio for MCS-51, sebagai editor dan compiler program

4. Ketik program berikut ini:

org 0h

CekP20: JB P2.0,CekP21 ; Menguji bit P2.0, apakah adalah logika '1'

call RLeft ; Jika P2.0=0, maka LED putar kiri

CekP21: JB P2.1,CekP20 ; Menguji bit P2.1, apakah adalah logika '1'

call RRight ; Jika P2.1=0, maka LED putar kanan

sjmp CekP20 ; jump forever to CekP2.0

;================================================

;Subrutin ini digunakan untuk menggerakkan LED Ke Kanan

;================================================

RLeft: mov A,#11111110b;send data to Acc

RLeft1: mov P0,A ;send data to P0

call delay ;call delay time

JB P2.1,RLeft2 ;Menguji bit P2.1, apakah adalah logika '1'

sjmp EndRLeft ;Jika P2.1=0, maka lompat ke EndRLeft

RLeft2: RL A

sjmp RLeft1

EndRLeft: ret

;

;==============================================

;Subrutin ini digunakan untuk menggerakkan LED Ke Kiri

;==============================================

RRight: mov A,#01111111b ;send data to Acc

RRight1: mov P0,A ;send data to P0

call delay ;call delay time

JB P2.0,RRight2 ;Menguji bit P2.0, apakah adalah logika '1'

sjmp EndRRight ;Jika P2.0=0, maka lompat ke EndRRight

RRight2: RR A

sjmp RRight1

EndRRight: ret

;=======================================

;subroutine delay time

;=======================================

delay: mov R1,#255

del1: mov R2,#255

del2: djnz R2,del2

djnz R1,del1

ret

end

5. Simpanlah program yang anda ketik dan beri nama : prog22a.asm

6. Pada program MIDE tersebut pilih Build /F9 atau untuk melakukan kompilasi program dari *.asm ke *.hex.

7. Lakukan pemrograman mikrokontroller dengan menggunakan Program ISP Software ( Lihat Petunjuk Penggunaan)

8. Lakukan pengamatan pada LED.

9. Lakukan modifikasi pada percobaan tersebut sesuai dengan dengan mengganti port tersebut dengan P2.2 ( putar kanan ) dan P2.3 ( putar kiri ).


Selengkapnya...

Rabu, 11 November 2009

PERCOBAAN 1 89S51

DISPLAY LED

referensi dari internet

 

TUJUAN:

1. Mahasiswa memahami rangkaian mikrokontroller untuk menghidupkan dan mematikan LED.

2. Mahasiswa dapat memahami program assembly untuk menghidupkan dan mematikan LED

3. Mahasiswa memahami beberapa instruksi assembly dasar, MOV, Setb, Clr, RL dan RR.

4. Mahasiswa memahami pembuatan instruksi waktu tunda



clip_image001
Gambar 1.1 Rangkaian Display LED

Perhatikan pada gambar 1.1 tersebut. Delapan buah LED terhubung ke port 0, yang difungsikan sebagai output. Pada konfigurasi tersebut LED akan nyala bila diberi logika LOW ‘0’ melalui port 0, dan LED akan padam bila diberi logika HIGH ‘1’ melalui port 0. Agar Display LED ini dapat aktiv maka jumper EN LED harus dihubungkan singkat.

Percobaan 1.1. Instruksi MOV

Pada percobaan 1.1 ini LED akan dihidupkan/ dimatikan dengan mengirimkan data tertentu pada port 0.
Untuk melakukan percobaan ini lakukan beberapa langkah sebagai berikut:

1. Hubungkan jumper pada LED_EN, untuk mengaktifkan 8 buah LED

2. Hubungkan modul Microcontroller Trainer dengan power supply +5

3. Hubungkan modul Microcontroller Trainer dengan rangkaian programmer

4. Buka Program M-IDE Studio for MCS-51, sebagai editor dan compiler program

5. Ketik program berikut ini:

Org 0h

Start: Mov P0,#11110000b ; Menghidupkan 8 buah LED

sjmp start

End

6. Simpanlah program yang anda ketik dan beri nama : prog11a.asm

7. Pada program MIDE tersebut pilih Build /F9 atau untuk melakukan kompilasi program dari *.asm ke *.hex.

8. Lakukan pemrograman mikrokontroller dengan menggunakan Program ISP Software ( Lihat Petunjuk Penggunaan)

9. Lakukan pengamatan pada LED

10. Gantilah data tersebut diatas dengan data seperti pada tabel berikut dan lakukan pencatatan LED mana yang padam.

Percobaan 1.2. Pembuatan Subrutine Waktu Tunda

Pada percobaan ini, 8 LED akan berkedip secara kontinu.
Untuk melakukan percobaan ini lakukan beberapa langkah sebagai berikut:

1. Hubungkan modul Microcontroller Trainer dengan power supply +5V

2. Hubungkan modul Microcontroller Trainer dengan rangkaian programmer

3. Buka Program M-IDE Studio for MCS-51, sebagai editor dan compiler program

4. Ketik program berikut ini:

Org 0h

Start: Mov P0,#11111111b ; Kirim data biner 11111111 ke P0

Call Delay ; Memanggil waktu tunda

Mov P0,#00000000b ; Kirim data biner 00000000 ke P0

Call Delay ; Memanggil waktu tunda

Sjmp start ;

Delay: mov R1,#255

Del1: mov R2,#255

Del2: djnz R2,del2

djnz R1,del1

ret

end

5. Simpanlah program yang anda ketik dan beri nama : prog12a.asm

6. Pada program MIDE pilih Build /F9 untuk melakukan kompilasi program dari *.asm ke *.hex.

7. Lakukan pemrograman mikrokontroller menggunakan Program ISP Software

8. Lakukan pengamatan pada LED

9. Gantilah data tersebut untuk mengedipkan sebuah LED, dua buah LED dan seterusnya

Percobaan 1.3. Instruksi Setb dan Clr

Pada percobaan ini, sebuah LED atau lebih dapat dihidupkan atau dimatikan dengan perintah setb dan clr.
Untuk melakukan percobaan ini lakukan beberapa langkah sebagai berikut:

1. Hubungkan modul Microcontroller Trainer dengan power supply +5V

2. Hubungkan modul Microcontroller Trainer dengan rangkaian programmer

3. Buka Program M-IDE Studio for MCS-51, sebagai editor dan compiler program

4. Ketik program berikut ini:

Org 0h

Start: Clr P0.0 ; Mengirimkan logika ‘0’ ke P0.0

Sjmp start ; jump ke start

end

5. Simpanlah program yang anda ketik dan beri nama : prog13a.asm

6. Pada program MIDE tersebut pilih Build /F9 atau untuk melakukan kompilasi program dari *.asm ke *.hex.

7. Lakukan pemrograman mikrokontroller dengan menggunakan Program ISP Software ( Lihat Petunjuk Penggunaan)

8. Lakukan pengamatan pada LED

9. Gantilah data tersebut untuk menghidupkan LED yang lain: LED 2, LED 3, LED 4, LED 5, LED 6, LED 7 dan LED 8.

10. Lakukan percobaan berikut untuk mengedipkan LED 1, dengan mengetikka program berikut ini.

Org 0h

Start: Clr P0.0 ; Kirim logika ‘0’ ke P0.0

Clr P0.1 ; Kirim logika ‘0’ ke P0.1

Clr P0.2 ; Kirim logika ‘0’ ke P0.2

Clr P0.3 ; Kirim logika ‘0’ ke P0.3

Clr P0.4 ; Kirim logika ‘0’ ke P0.4

Clr P0.5 ; Kirim logika ‘0’ ke P0.5

Clr P0.6 ; Kirim logika ‘0’ ke P0.6

Clr P0.7 ; Kirim logika ‘0’ ke P0.7

Call Delay ; Memanggil waktu tunda

Setb P0.0 ; Kirim logika ‘1’ ke P0.0

Setb P0.1 ; Kirim logika ‘1’ ke P0.1

Setb P0.2 ; Kirim logika ‘1’ ke P0.2

Setb P0.3 ; Kirim logika ‘1’ ke P0.3

Setb P0.4 ; Kirim logika ‘1’ ke P0.4

Setb P0.5 ; Kirim logika ‘1’ ke P0.5

Setb P0.6 ; Kirim logika ‘1’ ke P0.6

Setb P0.7 ; Kirim logika ‘1’ ke P0.7

Sjmp start ; lompat ke start

;

Delay: mov R1,#255

Del1: mov R2,#255

Del2: djnz R2,del2

djnz R1,del1

ret

end

11. Rencanakan program untuk mengedipkan dua buah LED, tiga buah LED dan seterusnya dengan instruksi Setb dan Clr.

Percobaan 1.4. Instruksi RL/ RR ( Rotate Left dan Right )

Pada percobaan ini, sebuah LED akan berjalan dari kiri ke kanan dan sebaliknya, program ini memanfaatkan instruksi RL dan RR.
Untuk melakukan percobaan ini lakukan beberapa langkah sebagai berikut:

1. Hubungkan modul Microcontroller Trainer dengan power supply +5V

2. Hubungkan modul Microcontroller Trainer dengan rangkaian programmer

3. Buka Program M-IDE Studio for MCS-51, sebagai editor dan compiler program

4. Ketik program berikut ini:

Org 0H

Start: Mov A,#11111110b

Mov R0,#7

Kiri: Mov P2,A

Call Delay

RL A

DEC R0

CJNE R0,#0,Kiri

Mov R0,#7

Kanan: Mov P2,A

Call Delay

RR A

DEC R0

CJNE R0,#0,Kanan

Sjmp Start

;

Delay: mov R1,#255

Del1: mov R2,#255

Del2: djnz R2,del2

djnz R1,del1

ret

end

5. Simpanlah program yang anda ketik dan beri nama : prog14a.asm

6.Pada program MIDE tersebut pilih Build /F9 atau untuk melakukan kompilasi program dari *.asm ke *.hex.

7.Lakukan pemrograman mikrokontroller dengan menggunakan Program ISP Software ( Lihat Petunjuk Penggunaan)

8.Lakukan pengamatan pada LED

9.Lakukan perubahan pada program tersebut untuk menjalankan dua buah LED kekiri dan kekanan, tiga buah LED kekiri dan kekanan , dan seterusnya.


Selengkapnya...

Rabu, 26 Agustus 2009

PENGUAT DAYA

Sumber: sound.wethost.com

Laboratorium Elektronika
Gedung Baru Elektro Lt. 1
Jl MT Haryono 167 Malang
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik
Universitas Brawijaya

1. Dasar Teori
Istilah penguatan pada dasarnya berarti membuat menjadi lebih kuat. Dalam bidang elektronika maka yang diperkuat adalah amplitudo dari sinyal. Untuk mengerti bagaimana penguat bekerja perlu dimengerti dua tipe penguatan yang utama yaitu :
  1. Penguat tegangan yaitu penguat yang menguatkan tegangan dari sinyal masukan.
  2. Penguat arus yaitu penguat yang menguatkan arus dari sinyal masukan.
      Sedangkan penguat daya yaitu kombinasi dari dua tipe penguat di atas. Meskipun pada kenyataannya semua penguat adalah penguat daya karena tegangan tidak akan ada tanpa adanya daya kecuali jika impedansinya tak terhingga.
      Efisiensi dari penguat daya didefinisikan sebagai perbandingan dari daya yang diterima beban dengan daya yang diberikan oleh catu daya.
Macam macam Penguat Daya
       Penguat daya diklasifikasikan menurut titik kerjanya. Titik kerja (titik Q) yaitu titik pada garis beban yang menggambarkan keadaan transistor saat tidak ada sinyal masukan. Menurut titik kerjanya penguat diklasifikasikan menjadi penguat klas A, B, AB, C ,D dan masih banyak lagi.

- Penguat klas A

o Penguat dengan letak titik Q di tengah-tengah garis beban.

o Mempunyai sinyal keluaran yang paling bagus diantara penguat jenis yang lain.

clip_image002

o Mempunyai sinyal keluaran yang paling bagus diantara penguat jenis yang lain.
o Efisiensinya paling rendah, karena banyaknya daya yang terbuang di transistor.
Disipasi daya tertinggi terjadi saat tidak ada sinyal masukan. Besarnya disipasi daya pada transistor dirumuskan :
clip_image003 clip_image005
Daya keluaran maksimum dapat dicari dari persamaan :
clip_image003[1] clip_image007
sehingga
clip_image003[2] clip_image009

- Penguat klas B

Penguat dengan letak titik Q di titik cut off garis beban. Kelemahannya yaitu adanya cacat penyeberangan (crossover distortion) yang terjadi karena adanya tegangan bias pada dioda basis emitor. Sehingga saat sinyal masukan belum bernilai sebesar tegangan on dari dioda basis emitor maka tidak akan ada sinyal keluaran. Karena letak titik Q penguat kelas B di titik cut-off maka untuk satu transistor hanya bisa menguatkan setengah siklus dari sinyal masukan. Sehingga untuk penguat kelas B digunakan konfigurasi Push-pull dimana dua transistor akan bergantian bekerja menguatkan masing-masing setengah siklus sinyal masukan.

- Penguat klas AB

Merupakan perbaikan dari penguat klas B. Cacat penyeberangan bisa dihilangkan dengan menambahkan prategangan pada dioda basis emitor. Dengan demikian transistor output sudah aktif saat belum ada sinyal masukan. Tentu saja titik kerja penguat menjadi berubah karena transistor tidak lagi berada pada keadaan cut off. Karena itulah disebut penguat klas AB. Penguat audio yang banyak ada di pasaran pada umumnya adalah penguat klas AB. Untuk memberi prategangan pada basis emitor tidak harus dengan dioda bisa juga dengan resistor atau transistor asalkan bisa memberi tegangan untuk mengaktifkan dioda di basis emitor.

2. Percobaan Penguat Daya
      Percobaan bab V terdiri dari dua percobaan yaitu penguat klas A dan penguat klas B yang kemudian dimodifikasi menjadi penguat klas AB.
Percobaan Penguat klas A.
     Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui letak titik kerja penguat klas A dan efeknya bila titik kerjanya tidak pada tengah garis beban.

 

Langkah pertama yaitu mengukur besarnya Ic dan Vce masing masing transistor saat tidak ada sinyal masukan.

clip_image011

 

Setelah itu lepas amperemeter dan beri sinyal masukan rangkaian penguat. Lihat gambar sinyal masukan dan keluaran di osiloskop.

 

Dari gambar terlihat kalau sinyal keluaran sefasa dengan sinyal masukan dan terpotong.

clip_image013

 

Terpotongnya linyal disebabkan oleh letak titik kerja penguat tingkat kedua yang tidak berada di tengah garis beban, terlihat dari hasil pengukuran Vce dan Ic sebelumnya.

 

Untuk membetulkan titik kerja maka digunakan resistor variabel sebagai pengganti salah satu resistor bias pembagi tegangan pada penguat tingkat kedua.

 

Resistor variabel diset sampai memperoleh tegangan keluaran yang tidak terpotong. Kemudian alat dimatikan dan diukur berapa nilai resistor variabel tersebut.

clip_image015

 

Kemudian hasil pengukuran dibandingkan dengan hitungan secara teori.

Penguat klas B dan AB
      Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui kelemahan dari penguat klas B murni dan cara mengatasinya.

 

Penguat klas B yang dipraktekkan disini menggunakan konfigurasi push pull dengan catu tunggal. Namun untuk penguat sinyal kecilnya digunakan penguat dengan konfigurasi Common Emitor.

 

Langkah pertama percobaan yaitu mengeset tegangan bias untuk masing masing transistor. Hal ini dilakukan dengan mengeset resistor variabel yang akan meletakkan tegangan di output penguat adalah � Vcc. Dan jangan lupa untuk mengukur arus yang ditarik dari catu daya sebelum penguat diberi sinyal masukan.

clip_image017

 

Kemudian beri masukan sinyal segitiga dan terlihat pada output kalau sinyal keluaran terdapat cacat penyeberangan (crossover distortion).

clip_image019

 

Untuk mengatasi cacat penyeberangan ini digunakan dua dioda untuk membias transistor push pull. Maka sinyal keluaran akan tidak lagi terdistorsi.

clip_image021

 

Dalam keadaan tanpa sinyal masukan ukurlah arus dari catu, maka akan terlihat bahwa rangkaian menarik arus lebih banyak.

Selengkapnya...

Penguat Sinyal Kecil

Sumber :

Laboratorium Elektronika
Gedung Baru Elektro Lt. 1
Jl MT Haryono 167 Malang
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik
Universitas Brawijaya

Penguat Sinyal terdiri atas :
1. Penguat Common Base
2. Penguat Common Emitter
3. Penguat Common Collector
Tujuan Percobaan ini adalah mencari karakteristik masing-masing penguat meliputi penguaatan tegangan, penguatan arus, penguatan daya, resistansi input, resistansi output, impedansi input dan impedansi output.

1.1 Penguat Common Base
1.1.1 Dasar Teori
      Penguat Common Base juga dikenal dengan penguat dengan basis ditanahkan. Penguat ini dapat menghasilkan penguatan tegangan antara sinyal masukan dan keluaran, tetapi tidak penguatan arus. Karakteristiknya adalah impedansi masukan kecil dan impedansi keluaran seperti pada penguat Common Emitter. Karena arus masukan dan keluaran mempunyai nilai yang hampir sama, kapasitor stray dari transistor tidak terlalu berpengaruh dibandingkan pada penguat common emiter. Penguat common basis sering digunakan pada frekuensi tinggi yang menghasilkan penguatan tegangan lebih besar daripada rangkaian dengan 1 transistor lainnya.
      Penguat Common Base ditunjukkan dalam Gambar 1.1. Diatas frekuensi corner kapasitor antara basis dan ground pada rangkaian menghasilkan pentanahan sinyal AC yang efektif pada basis transistor.

clip_image002

Gambar 1.1. Penguat Common Base

1.1.2 Prosedur dan Hasil Percobaan

1.

Susun rangkaian seperti pada Gambar 1.2 dan hubungkan dengan oscilloscope : channel 1 = input = U1, channel 2 = output = U2

2.

Set resistor variable R2 sehingga UCE = U2 = � US 5 Volt untuk U1 = 0 Volt. Kemudian ukur reistansinya.

3.

Set tegangan input U1 = 10 mVPP dengan frekuensi 1 kHz. Ukur U2 menggunakan oscilloscope.

4.

Ukur beda phase antara input dan output.

5.

Untuk mendapatkan nilai resistansi output rangkaian, pasang resistor variabel R'L = 47 k terhadap U2 seperti pada gambar. Atur R'L sehingga U'2 = � U2. Ukur nilai resistansinya.

6.

Untuk mengukur arus input, pasang resistor R3. Sekali lagi atur U1 dan ukur U3.

clip_image004

Gambar 1.2. Rangkaian Penguat Common Base

clip_image006

Gambar 1.3. Rangkaian Penguat Common Base pada kit board

clip_image007 clip_image009

Gambar 1.4. Grafik Tegangan keluaran dan masukan pada oscilloscope

1.2 Penguat Common Emitter dengan RE
1.2.1 Dasar Teori
      Penguat Common Emitter sering dirancang dengan sebuah resistor emiter (RE) seperti ditunjukkan dalam Gambar 1.5. Resistor tersebut menghasilkan bentuk dari umpan balik negatif yang dapat digunakan untuk menstabilkan titik operasi DC dan penguatan AC.

clip_image011

Gambar 1.5. Penguat Common Emitter dengan RE

1.2.2 Prosedur dan Hasil Percobaan

1.

Susun rangkaian seperti pada Gambar 1.6 dan hubungkan dengan oscilloscope : channel 1 = input = U1, channel 2 = output = U2

2.

Set resistor variable R2 sehingga UCE = U2 = � US 5 Volt untuk U1 = 0 Volt. Kemudian ukur reistansinya.

3.

Set tegangan input U1 = 10 mVPP dengan frekuensi 1 kHz. Ukur U2 menggunakan oscilloscope.

4.

Ukur beda phase antara input dan output. Catat hasilnya pada tabel data !

5.

Untuk mendapatkan nilai resistansi output rangkaian, pasang resistor variabel R'L = 47 k terhadap U2 seperti pada gambar. Atur R'L sehingga U'2 = � U2. Ukur nilai resistansinya.

6.

Untuk mengukur arus input, pasang resistor R3. Sekali lagi atur U1 dan ukur U3.

clip_image007[1] clip_image013

Gambar 1.6. Rangkaian Penguat Common Emitter

clip_image015

Gambar 1.7. Rangkaian Penguat Common Emitter pada kit board

clip_image007[2] clip_image017

Gambar 1.8. Grafik Tegangan keluaran dan masukan pada oscilloscope

1.3 Penguat Common Collector
1.3.1 Dasar Teori
      Penguat Common Collector juga disebut dengan pengikut emiter (emitter follower) karena tegangan sinyal keluaran pada emiter hampir sama dengan tegangan sinyal masukan pada basis. Penguatan tegangan penguat ini selalu lebih kecil dari 1, tetapi mempunyai penguatan arus yang tinggi dan biasanya digunakan untuk mencocokkan sumber dengan impedansi tinggi ke beban yang impedansinya rendah. Penguat ini mempunyai impedansi masukan besar dan impedansi keluaran kecil. Penguat Common Collector ditunjukkan dalam Gambar 1.9.

clip_image019

Gambar 1.9. Penguat Common Collector

1.3.2 Prosedur dan Hasil Percobaan

1.

Susun rangkaian seperti pada Gambar 1.10 dan hubungkan dengan oscilloscope : channel 1 = input = U1 channel 2 = output = U2

2.

Tanpa masukan di U1, hitung tegangan pada U2.

3.

Set tegangan input U1 = 2 VPP dengan frekuensi 1 kHz. Ukur U2 menggunakan oscilloscope.

4.

Ukur beda phase antara input dan output.

5.

Untuk mendapatkan nilai resistansi output rangkaian, pasang resistor variabel R'L = 47 k terhadap U2 seperti pada gambar. Atur R'L sehingga U'2 = � U2. Ukur nilai resistansinya.

6.

Untuk mengukur arus input, pasang resistor R3. Sekali lagi atur U1 dan ukur U3.

clip_image021

Gambar 1.10. Rangkaian Penguat Common Collector

clip_image007[3] clip_image023

Gambar 1.11. Rangkaain Penguat Common Collector pada kit board

clip_image007[4] clip_image025

Gambar 1.12. Grafik Tegangan keluaran dan masukan pada oscilloscope

Selengkapnya...